Kisah ini dimulai pada saat liburan waisak 2010. Sebagai orang kampung yang jarang pulang kampung selayaknya ingin merasakan liburan yang lumayan singkat bagi saya untuk mengunjungi objek wisata di wilayah jogja.

Tiket kereta api jauh hari sudah saya pesan, karena saya takut kehabisan. Dan ternyata benar 28 hari sebelum keberangkatan tiket kereta api untuk Senja Utama jogja telah habis, dan Sawunggalih kutoarjo pun telah habis. Akhirnya saya majukan kepulangan saya pada 1 hari sebelum libur waisak.

Singkat cerita setelah saya sampai di jogja , saya langsung keliling-keliling kota jogja. Tak pernah luput dari  saya, malioboro menjadi tempat bagi saya untuk menikmati kota jogja yang sesungguhnya. Berawal jalan kaki menyusuri sepanjang jalan malioboro, dimulai dari stasiun tugu sampai ke perempatan Istana Negara. Pasar Beringharjo menjadi tempat favorit calon istri saya untuk belanja batik, dan segala pernak-pernik.

Pagi hari setelah semalam menginap digubuk milik orang tua, saya melanjutkan wisata saya ke Paris istilah keren anak-anak remaja jogja untuk menyebut pantai Parangtritis. Menyusuri pantai, jalan berdua dengan mantan pacar saya, terasa indah kala waktu itu sembari dikipas-kipas oleh angin sepoi-sepoi sepanjang pantai. Serasa dunia milik kita berdua, yang lain “NGONTRAK”.
Tiba diujung timur pantai terdapat kali kecil yang membelah pasir pantai. Diatas kali terdapat jembatan sepanjang kurang lebih 3 meter. Karena takut terseret arus aliran kali yang sebenarnya tidak terlalu dalam, kami pun memutuskan untuk menyeberangi kali lewat jembatan tersebut.
Setelah jembatan kali kami sebrangi, di ujung jembatan tersebut menunggu 2 orang pemuda dengan muka senang sepertinya (karena telah mendapatkan mangsa) segera mengucapkan kata-kata, “Mas bayar dulu”. Sepontan saja saya menjawab “Oh bayar to mas”. Hmm.., dalam hati berbisik “Kena jebakan nih gw”. Saya pun langsung mengulurkan uang seribu rupiah, eh salah satu pemuda itu bilang “dua ribu mas”.
Lolos dari jembatan kami menemui beberapa remaja putra dan putri yang berwisata sedang berpotret-potret. Setelah lelah mereka ingin duduk di sebuah gubuk, tetapi mereka mengurungkan niatnya karena salah satu remaja itu bilang “Eh, ntar disuruh bayar lagi loh”. Mendengar ucapan tersebut, dengan tersenyum saya pun bilang ke mantan pacar saya, “Kayaknya mereka juga kena jebakan jembatan itu juga ya, berarti bukan kita juga yang tertipu…”